Minggu, 18 April 2010
hari semakin menua di perantaraan waktu
mengubur kisah demi kisah
dalam ruang rindu yang masih sama hangat
kala tawa, berselang tangis
kala ego berulang
lalu, berjabat tangan dengan dusta
seribu tanya, mengawang rupa
ketika kau tak kunjung datang
pun waktu, titipkan sang mungkin
yang lahir dari segala dongeng sebelum tidur
tentang keajaiban dan hidup bahagia selamanya
kita, masih, merapal mimpi
yang terasing di seberang nyata
walau kita tahu semuanya semu
menghalalkannya hanyalah
;pilihan
memberi makna lebih dari sekedar dosa
mari, nisankan saja semuanya
marah, benci , dan kepedihan
berikut rindu dendam
terakhir,
cinta
mengubur kisah demi kisah
dalam ruang rindu yang masih sama hangat
kala tawa, berselang tangis
kala ego berulang
lalu, berjabat tangan dengan dusta
seribu tanya, mengawang rupa
ketika kau tak kunjung datang
pun waktu, titipkan sang mungkin
yang lahir dari segala dongeng sebelum tidur
tentang keajaiban dan hidup bahagia selamanya
kita, masih, merapal mimpi
yang terasing di seberang nyata
walau kita tahu semuanya semu
menghalalkannya hanyalah
;pilihan
memberi makna lebih dari sekedar dosa
mari, nisankan saja semuanya
marah, benci , dan kepedihan
berikut rindu dendam
terakhir,
cinta
Label: puisi
0 Comments:
Subscribe to:
Posting Komentar (Atom)