Minggu, 18 April 2010

hampa



Aku tidak pernah paham mengapa takdir begitu cemburu pada kita yang pernah berjumpa lewat perantaraan baitbait sajak dan menitipkan asa yang sama satu sama lain. Tidak juga ku mengerti apa artinya perjumpaan bila akhirnya menitipkan semata leluka yang pada akhirnya pupus teredam larut mengasin di perantaraan jarak.

“cinta, rasanya waktu itu sepertu hantu yang memburu kita hingga berlarian ke arah yang berbeda”

Seperti mimpi yang kehilangan satu sisi, aku mencoba mengadu sebentuk pemahaman tentang kata ”keyakinan” yang kerap kali kau ucapkan sebagai tanya ketika punggungku berlalu dari hadapanmu. Kau tahu, melafalkannya berulang hanya membuat rongga dada ku semakin sempit dan sesak, manakala kesadaranku menyentuh dinding ruang hati dan di sana aku temukan hanya hampa dalam ketiadaan yang begitu kosong

“seyakin kurasakan segenap asaku untuk menujumu, seyakin itu pula ketidakmungkinan mewujud rupanya dalam bahasa keyakinan itu sendiri”

0 Comments:

Post a Comment